
CTA. CTA yang dipersonalisasi terbukti mampu mengonversi pengunjung hingga 42% lebih banyak dibandingkan CTA yang bersifat generik atau kurang jelas. Strategi ini efektif untuk mengarahkan calon pelanggan melalui corong penjualan dengan lebih cepat dan efisien.
Baca Juga: Berapa Jumlah Karakter Maksimum untuk Meta Description?
Lalu, bagaimana cara membuat CTA yang menarik pelanggan? Simak pembahasan MinTiv berikut ini.
Daftar Isi
ToggleApa itu CTA (Call to Action)?
Menurut Investopedia, CTA adalah istilah pemasaran yang mengacu pada tindakan selanjutnya yang diinginkan pemasar dari audiensnya. Ajakan bertindak ini sering berkaitan dengan penjualan, misalnya mengarahkan pembaca untuk mengklik tombol “beli” atau mendorong mereka menjadi konsumen produk atau jasa. Selain, itu juga bisa mengajak audiens berlangganan newsletter atau mengikuti pembaruan produk.
Baca Juga: Lead Adalah: Jenis dan Strategi Mendapatkan Leads Berkualitas
Agar efektif, CTA harus jelas dan langsung mengikuti pesan pemasaran. Bentuknya bervariasi sesuai media, misalnya iklan televisi bisa meminta audiens menelepon atau mengunjungi situs, sementara newsletter cukup menampilkan tombol “donasi sekarang”. CTA bisa bersifat halus, seperti mengenalkan produk, atau keras dengan ajakan langsung, misalnya “beli sekarang”.
Jenis-jenis CTA
Beberapa jenis CTA yaitu sebagai berikut.
- Lead Generation. CTA ini sangat penting untuk mengubah pengunjung website menjadi lead. Penempatannya dilakukan di area dengan trafik pengunjung baru yang tinggi, seperti blog, akhir postingan, sidebar, atau floating banner. Agar efektif, lead generation harus mampu menarik perhatian dan menyampaikan nilai yang ditawarkan secara jelas.
- Form Submission. Setelah pengunjung masuk landing page, mereka perlu mengisi formulir dan menekan tombol submit. Di tahap ini, mereka hampir menjadi lead. Oleh karena itu, CTA harus spesifik, menarik, dan sesuai dengan penawaran marketing agar mendorong pengunjung melakukan aksi.
- Tombol “Read More”. Beberapa blog atau portal online menampilkan sebagian konten di homepage. CTA “baca lebih lanjut” atau “read more” memikat audiens untuk membuka konten penuh, sekaligus memungkinkan lebih banyak konten tampil di halaman depan.
- Social Sharing. Jenis ini mendorong audiens membagikan konten ke orang lain. Social sharing membantu interaksi pengunjung, lead, maupun pelanggan dengan merek secara sederhana namun efektif.
- Lead Nurturing. Bagi lead yang masih ragu membeli, CTA ini menawarkan penawaran tambahan seperti demo produk, uji coba gratis, atau free trial. Penempatan biasanya di area yang sering dikunjungi lead untuk meningkatkan peluang konversi.
- Closing the Sale. Setelah proses lead generation dan nurturing, CTA ini bertujuan mendorong lead menjadi pelanggan. Fokusnya adalah mendorong pembelian produk atau layanan secara langsung.
- Event Promotion. CTA ini dipakai untuk mengundang audiens hadir di acara offline atau online. Bisa meningkatkan awareness dan mendukung penjualan tiket, dengan penempatan sesuai segmen target audiens.
- Product/Service Discovery. Saat pengunjung ingin mengenal perusahaan dan produk, CTA ini membantu mereka menemukan informasi dengan mudah. Desain sederhana dan button menonjol sudah cukup untuk menarik perhatian.
Tips Membuat CTA yang Menarik Pelanggan
Tips untuk membuat CTA yang menarik di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Pahami Audiens
Langkah utama untuk membuat CTA yang menarik adalah memahami audiens Kawan Creativ secara mendalam. Lakukan segmentasi berdasarkan demografi, perilaku, dan preferensi mereka, lalu buat pesan yang relevan dan menyentuh kebutuhan tiap segmen, sekaligus menunjukkan produk sebagai solusi atas masalah mereka. Dengan pendekatan yang dipersonalisasi, peluang calon pelanggan melakukan konversi meningkat secara signifikan.
2. Menganalisis Data Konsumen
Memahami audiens tidak bisa hanya didasarkan pada asumsi. Untuk membuat CTA yang menarik, Kawan Creativ perlu mengumpulkan data audiens melalui riset pasar, survei, atau wawancara langsung. Informasi mengenai preferensi, kebutuhan, dan perilaku konsumen ini menjadi dasar dalam merancang pesan yang relevan, tepat sasaran, serta menarik perhatian audiens.
Dengan menganalisis data secara mendalam, Kawan Creativ dapat menyesuaikan desain, konten, dan posisi tombol atau link sehingga lebih optimal. Pendekatan berbasis data seperti ini meningkatkan peluang konversi dan membuat strategi pemasaran lebih efisien, terukur, dan mampu membangun interaksi yang berkualitas.
3. Kunci Merangkai CTA
Menyusun CTA yang efektif memerlukan perencanaan matang. Berikut beberapa langkah penting yang bisa dilakukan:
- Pilih Kata yang Jelas dan Spesifik. Pastikan audiens langsung paham tindakan yang ingin dilakukan, misalnya “Beli Sekarang”, “Daftar Gratis”, atau “Pelajari Lebih Lanjut”, agar tidak membingungkan.
- Sorot Manfaat atau Nilai. Tunjukkan alasan audiens harus bertindak, seperti “Dapatkan Diskon 20% Hari Ini” atau “Coba Gratis Selama 7 Hari”, sehingga mereka melihat keuntungan nyata dari aksi tersebut.
- Ciptakan Rasa Mendesak. Gunakan kata-kata yang mendorong audiens segera bertindak, misalnya “Terbatas” atau “Hanya Hari Ini”, agar mereka terdorong melakukan klik atau pembelian tanpa menunda.
- Desain yang Menonjol dan Mudah Dikenali. Button atau link CTA harus terlihat jelas, kontras dengan latar belakang, dan mudah diklik agar menarik perhatian pengunjung.
- Personalisasi Pesan. Sesuaikan CTA dengan segmen audiens tertentu supaya relevan dengan kebutuhan atau masalah mereka.
- Tempatkan di Posisi Strategis. Letakkan CTA di area yang mudah terlihat, seperti di akhir artikel, sidebar, atau landing page populer untuk meningkatkan peluang interaksi.
4. Melakukan A/B Testing
Mirip dengan uji coba produk, A/B testing memungkinkan Kawan Creativ menguji CTA versi tombol atau link untuk menentukan mana yang paling efektif bagi audiens. Proses ini melibatkan pengukuran metrik penting, seperti CTR (Click-Through Rate), yang menunjukkan persentase klik pada elemen yang diuji di halaman website.
Selain itu, metrik konversi dan bounce rate membantu menilai sejauh mana pengunjung melakukan tindakan yang diinginkan. Dengan menganalisis hasil A/B testing, Kawan Creativ dapat mengetahui versi mana yang paling menarik perhatian dan mendorong interaksi, sehingga strategi pemasaran dapat dioptimalkan secara lebih tepat dan efisien.
5. Perbarui CTA Secara Berkala
Jika pengguna terus melihat iklan dengan desain dan penempatan CTA yang sama, lama-kelamaan mereka akan mulai mengabaikannya secara tidak sadar. Untuk mencegah hal ini, penting bagi Kawan Creativ memperbarui CTA secara berkala agar tetap menarik perhatian audiens.
Baca Juga: Kumpulan Contoh CTA di Instagram, Terbaru dan Unik!
Hindari penggunaan visual yang monoton atau terkesan ketinggalan zaman, karena hal ini dapat membuat pesan pemasaran terlihat kurang segar. Dengan menghadirkan CTA yang baru dan kreatif, pengguna akan lebih tertarik untuk berinteraksi. Selain itu, pembaruan ini juga mencerminkan bahwa produk atau layanan yang ditawarkan terus berkembang dan berinovasi, meningkatkan citra positif di mata konsumen.
FAQ Seputar Konten
- Apa perbedaan antara CTA keras dan halus? CTA keras mendorong tindakan langsung, seperti “Beli Sekarang”, sedangkan CTA halus mengajak audiens mengenal produk atau layanan terlebih dahulu.
- Bisakah CTA digunakan di media sosial? Tentu, CTA juga efektif di postingan sosial media untuk mendorong like, share, komentar, atau klik link.
- Bagaimana mengetahui CTA berhasil? Keberhasilan CTA diukur melalui CTR, konversi, dan bounce rate, untuk menilai interaksi pengunjung dan efektivitas pesan sebelum melakukan optimasi lebih lanjut.
Kesimpulan
CTA yang dirancang tepat meningkatkan interaksi, menarik audiens, dan mendorong konversi, sehingga strategi pemasaran menjadi lebih efektif dan terukur.
Pesan Sekarang: Jasa Pembuatan Website Bisnis Terbaik
Optimalkan bisnis Anda dengan digital marketing. Dapatkan konsultasi gratis dan wujudkan pertumbuhan bisnis Anda! Hubungi kami sekarang melalui WhatsApp 6281 22222 7920.




Balik-balik ke tentang pemahaman audiens ya. Aku pribadi sebenernya agak males liat situs/blog yang dikit-dikit kudu “read more” apalagi iklannya bujubuneng buanyak banget, tapi memang banyak juga yang nggak mempermasalahkan itu. Berarti ada faktor X, misalnya ya sejak awal ada ketertarikan dengan apa yang mau dilihat, dan “read more” itu membantu jika memang dibutuhkan penjelasan lebih lanjut. Menarik pembahasan tentang CTA ini. TFS ya.
Beberapa kali melihat website yg pakai ajakan keras utk membeli. Limited product lah, harga diskon hanya hari ini etc. Aku sendiri agak sebel kalo tertarik dengan suatu produk, tapiiii artikel di websitenya panjang beneeer. Kan wajar kalo aku tuh mau langsung tahu harganya , sesuai budget atau ga. Tapi kdg mereka sengaja nempati testimoni dululah, dan banyak yg ga penting lainnya. Ujung2 itu harga ditulis paling bawah 🤣. Tapi mungkin buat orang lain , yg begitu yg menarik yaaa. Sementara aku LBH PGN tahu harga, baru kemudian detail produk.
Percuma dia jelasin panjang lebar, tp kalo harga ga masuk, aku ga bakal beli.
Ilmu CTA juga sering aku praktikin lho di blog aku, tapi targetnya bukan penjualan siih, melainkan supaya orang2 betah stay di blogku hehe 😛
Cuma biasanya aku gak maksa juga orang kudu klik, biasanya sih kasi yang relate sama isi blogpost yang mereka baca duluan, yg membuat mereka kek ngrasa sayang kalau gak baca lanjutannya itu.
Btw kalau buat penjualan emang sebaiknya pakai kata yang jelas dan juga agak tegas ya jadi buat yang mau membeli produk tu gak buang waktu lama2 buat lanjut klik atau tutup webnya #imho.
sama nih kayak April.
berusaha banget CTA selalu terasa di blog.
tapi yhaa balik lagi ke audiens/konsumen…karena preferensi masing² orang kan berbeda²
tapi artikelnya baguuusss dan on point.
Awalnya nggak paham apa itu CTA tapi kayanya sering dijumpai dalam kehidupan dengan gadget sehari-hari. Ternyata ini salah satu strategi pemasaran ya.
CTA yang dipersonalisasi bisa naikin konversi sampai 42%? Gila sih, angkanya bikin penasaran banget! daku setuju banget, CTA yang generik itu seringnya cuma jadi pajangan. Kayak cuma bilang “klik di sini” tanpa alasan jelas. Jadi makin jelas sih buatku kalau CTA itu bukan sekadar tombol, tapi jembatan yang nuntun audiens. Bagian tips merangkai CTA itu highlight utamanya. Mulai dari pakai kata yang spesifik sampai nyiptain urgency, semua to the point banget
Memang butuh CTA yang sesuai dengan audiens ya tidak ujug-ujug ada di akhir artikel blog.. aku biasanya sih secara soft kalau untuk jualan produk. m
Kata-kata dari CTA memang harus yang ciamik dibuat, karena ketika ada yang berkunjung ke situs tersebut mereka mau untuk klik lebih jauh dari kata² CTA tersebut. Di sini perlu ciamik mengolah kata² tersebut, sehingga CTA yang dibuat bisa dikatakan berhasil eh plusnya sampai datang pembeli baru kan, nah makin mantap itu
Ternyata jenis CTA cukup banyak ya. Jadi lebih paham. Aku sering pakai yang read more kalau di story IG. Aku jadi kepikiran soal perlu ganti berkala. Prilaku orang memang cenderung suka yang tidak monoton.
Thanks banget buat tulisannya, jadi lebih paham soal CTA. Belakangan memang butuh di praktekan.
Nah, iya CTA pun harus beneran dikulik agar makin ciamik dan tepat sasaran. Lagi dan lagi analisa data audience jadi salah satu basic jitu buat nentuin CTA apa yang beneran pas. Aku sih yakin kalau CTA yang beneran ngena, halus dan personal sama audience bakalan bikin mereka tertarik.
Selama nggak berlebihan dan sering di update sesuai kebutuhan, akan kasih impact positif pastinya.
Sebenarnya CTA ini kalau dikelola dan ditempatkan pada posisi yang pas bisa membantu banget sih. Cuma ketika melihat penerapan dari beberapa pihak tuh kesannya kayak bikin sebel menurutku.
Ada salah satu yang bikin kesel tuh, judul udah bombastis, baca beberapa paragraf, muncul read more, di klik read more, dibacaaaa terus tapi malah artikelnya muter² dan info yang mau didapat malah nggak ada. Itu kayal zonk banget.. 😪
Emang sih secara trafik dia bakal naik, tapi dari sisi keloyalan pembaca mungkin kurang. Dan kalau saja pemilik atau penulis di portal itu sadar, bisa aja sih CTA itu di kreasikan biar pembaca tetap nyaman. 👍🏻
Soal CTA ini sebenarnya sudah kita praktekkan sehari-hari di sosial media kita baik Instagram Tik tok, Facebook dan juga diblog karena pastinya kita butuh call to action supaya pemirsa atau audience mau melakukan apa ya kita ajak dan yang pasti banyak sekali ajakan sesuai dengan target. Dan sebuah skill atau kemampuan untuk bisa membuat call to action yang baik dan keren sehingga orang mau melakukan nya
Ternyata tombol CTA itu beragam ya. Dan rasa-rasanya saya pernah klik semua hehe. Misalnya di blog atau website itu read more. Terus sekarang sering klik beli karena tergoda kata-kata, katanya. Beli sekarang, mumpung harga promo hahaha. CTA ini Memang sangat ampuh ya. Asal pas audiens-nya.
Wahh ilmu daging nih. Biasanya pake CTA pas jualan di sosmed aja. Ternyata bisa dipakai pas jualan di blog. Dan ternyata CTA ada macam-macam, kudu pinter juga ngaturnya gimana biar pembaca tidak bosan lalu leave.
Ternyata CTA pun ada tekniknya yang halus dan mengena ke sasaran pembaca yaa..
Memang mengenal audience ini penting sekali… selain ketersesuaian konten, lalu ditutup dengan CTA yang menarik, Makdeesss… langsung closing siyh yaa.. ((minimal “kesan” positif uda di tangan))
CTA keras lebih jreeng biasanya, jadi memang bener² mengajak. Misal ajak beli produk secara terang terangan. Biasanya ada di akhir artikel kalau saya biasa menemukan. Naah kalau CTA halus lebih smooth dan gak kerasa sebenernya kita digiring buat clossing. Saya sebenarnya lebih suka gaya kedua.
Kalau iklannya pas dan tidak berbelit-belit, jika memang saya butuh begitu ada statement CTA umumnya saya langsung klik sih, wkwkwk jiwa konsumtifku ya
Tapi emmang kalimat CTA ini menggiring orang untuk bergegeas beli tanpa pikir panjang. Apalagi saat ini media promonya banyak beud
Klo mau sukses digital marketing, emang baiknya bikin konten dgn CTA yang menarik ya kak
Ini yg harus tahu ilmunya