
Mengembangkan dan mendesain web perusahaan tentu bukanlah hal yang mudah, apalagi banyak hal yang harus diperhatikan secara teliti. Sayangnya, sebagus apapun hasil desainnya, suatu perusahaan pasti akan mencapai titik di mana web resminya harus dirombak ulang atau redesign.
Tidak bisa dipungkiri, redesign adalah salah bagian terpenting di dunia pengembangan web, khususnya yang berorientasi bisnis. Website sendiri berperan sebagai citra perusahaan yang akan ditampilkan di internet dan dilihat oleh ribuan pasang mata.
Baca Juga: Unsur-unsur Slogan yang Efektif untuk Meningkatkan Brand Awareness
Namun ketika perusahaan mengalami pergeseran identitas atau segmen pasar, tentu website bisnis tersebut harus didesain ulang untuk menyesuaikan kondisi terbaru perusahaan. Pada kali ini, MinTiv akan membahas alasan , manfaat, dan tips redesign suatu web.
Simak ulasan berikut!
Daftar Isi
TogglePengertian Redesign
Redesign adalah proses upgrade atau juga perombakan ulang desain visual pada web yang sudah ada. Di dunia pengembangan web juga terdapat istilah relaunch yang berfokus pada perubahan teknis dan penyesuaian ulang konten. Sedangkan redesign sendiri benar-benar berfokus pada layout.
Proses redesign tidak akan mengubah hal-hal teknis sama sekali seperti mengganti CMS atau menggunakan URL baru. Redesign sendiri dapat membantu Anda dalam mengimplementasikan strategi desain dan UX pada web perusahaan.
Mengapa Web Harus Melalui Proses Redesign?
Ada banyak sekali alasan yang menyebabkan suatu web harus didesain ulang. Namun, kebanyakan alasannya bermuara pada UX. Adapun alasan redesign suatu web adalah seperti berikut:
1. Desain yang Kurang Menarik
Pewarnaan, bentuk, dan font sangatlah berpengaruh pada audiens yang melihat suatu web. Audiens bisa langsung pergi dari laman tersebut jika tampilannya membosankan. Karena itulah jika desain suatu web kurang menarik, maka hal itu bisa menggagalkan seluruh strategi pemasaran yang telah dilakukan.
2. Layoutnya Membingungkan
Setiap orang yang mengunjungi suatu web pasti memiliki niatan tertentu baik untuk mencari informasi atau membeli barang. Namun, audiens akan mengurungkan niatnya jika tampilan websitenya membingungkan. Dengan begitu, audiens akan kesulitan untuk menemukan konten atau informasi yang ingin dicari. Maka tidak heran jika suatu web harus dirombak ulang dengan struktur dan navigasi yang lebih terarah.
3. Tampilannya Sangat Jadul
Beberapa bisnis dengan segmen pasar old money tak jarang memiliki web dengan tampilan jadul agar lebih relate dengan konsumennya. Namun ketika pasarnya bergeser ke generasi yang lebih muda, tentu web tersebut pasti akan dicap tidak profesional. Selain itu, web dengan tampilan yang tidak up-to-date sering kali menjadi sinyal dari buruknya kualitas produk yang dijual.
Baca Juga: Apa Target Menggunakan SEO untuk Bisnis? Ini Jawabannya!
Manfaat Redesign Website
Terdapat statistik yang menunjukkan bahwa hampir 75% orang menilai suatu web dari desainnya. Karena itulah redesign tidak hanya penting, tapi juga membawa banyak manfaat bagi website seperti:
1. Meningkatkan User Experience (UX)
Interaksi pengunjung suatu laman sangatlah dipengaruhi oleh UX-nya. Pengunjung yang merasakan pengalaman positif di suatu website dapat meningkatkan engagement rate, durasi waktu di web tersebut, dan juga memperbanyak penjualan. Sebaliknya, jika pengalaman pengunjung buruk, kemungkinan besar mereka tidak akan kembali lagi ke web Anda.
2. Bagus untuk Optimasi SEO
Optimasi SEO yang baik akan meningkatkan visibilitas website di mesin pencari, sehingga web Anda akan lebih mudah ditemukan audiens. Saat proses redesign, fokuslah pada faktor-faktor SEO yang penting seperti mengoptimasi konten dan mengecilkan ukuran gambar. Hal tersebut dapat mempercepat waktu loading, yang mana sangat bagus untuk SEO.
3. Menguatkan Identitas Brand
Website adalah markas utama yang menampilkan wajah dan identitas suatu brand. Namun ketika brand mengalami pergeseran nilai dan filosofi, maka tentu saja webnya juga harus didesain ulang agar sesuai dengan identitas yang baru. Dengan begitu, web Anda akan tetap relevan dan terpercaya di mata audiens.
Tips Redesign Website
Mendesain ulang website membutuhkan kemampuan teknis seperti programming front-end serta keahlian dalam mengoperasikan CMS dan software desain. Namun dalam gambaran besarnya, ada beberapa langkah yang harus diikuti:
1. Tetapkan Tujuan Redesign
Merombak ulang desain visual website tidak bisa sembarangan. Anda harus menentukan tujuan secara spesifik agar nantinya dapat menghemat biaya dan waktu. Tujuan redesign website biasanya menyesuaikan desain dengan standar yang lebih kekinian, mencari target audiens baru, atau merapikan ulang struktur website.
2. Tentukan Siapa yang Akan Mengerjakannya
Ada banyak sekali jasa desain dan pengembangan web di luar sana baik dari agensi atau freelancer, yang semuanya bisa disesuaikan dengan budget. Namun jika perusahaan Anda tidak punya tim desainer/developer lokal, maka lebih baik untuk menggunakan jasa agensi yang memiliki tim dengan spesialisasi sendiri.
3. Mulai Proses Redesign
Proses desain website modern biasanya mencakup langkah-langkah berikut:
- Membuat outline kasar untuk suatu laman, atau sering disebut sebagai wireframing.
- Membuat template sebagai fondasi akhir desain.
- Tim programmer akan mulai mengeksekusi program berdasarkan template desain yang sudah dibuat.
- Menambahkan berbagai konten baru untuk meningkatkan visibilitas web.
- Menguji dan mengamati interaksi website dengan pengunjung.
4. Pertimbangkan Manfaat dan Risikonya
Seperti yang telah disebutkan, website yang telah didesain ulang memiliki banyak manfaat, khususnya dalam meningkatkan pengalaman pengunjung. Namun, ada juga risiko yang harus diperhatikan, khususnya pada kesalahan teknis yang terjadi saat redesign. Risiko tersebut bisa saja terjadi, dan dapat berdampak buruk terhadap SEO dan pemasaran brand.
Baca Juga: Cara Menjalankan SEO di Bisnis Muda, Optimasi Brand Mention!
Alur Redesign yang Baik dan KPI yang Bisa Digunakan
Sebelum memulai proses redesign, penting bagi Anda untuk memahami alurnya dengan jelas. Redesign yang dilakukan tanpa arah bisa berakhir dengan hasil yang justru tidak efektif. Berikut gambaran umum alur redesign yang baik:
- Analisis Awal & Audit Desain Lama. Langkah pertama adalah melakukan audit terhadap desain yang sudah ada. Cari tahu apa yang kurang, fitur apa yang tidak berjalan maksimal, dan elemen mana yang justru membingungkan pengguna.
- Riset Pengguna & Tujuan Baru. Setelah memahami kondisi awal, lakukan riset pengguna. Pahami apa yang mereka butuhkan, apa yang membuat mereka bertahan, dan apa yang menjadi kendala saat berinteraksi dengan desain lama. Dari sini, Anda bisa menentukan arah dan tujuan baru dari redesign yang akan dilakukan.
- Konsep & Desain Ulang. Masuk ke tahap konsep visual dan fungsional. Buat wireframe atau mockup yang menyesuaikan dengan tujuan baru tadi. Pastikan perubahan tidak sekadar mempercantik tampilan, tapi juga memperbaiki pengalaman pengguna secara menyeluruh.
- Uji Coba & Revisi. Sebelum dirilis, lakukan pengujian pada versi baru. Ajak tim internal atau bahkan pengguna untuk memberikan feedback langsung. Revisi setiap hal yang masih belum sesuai harapan agar hasil akhir lebih solid.
- Peluncuran & Evaluasi Berkala. Setelah desain baru diluncurkan, jangan berhenti di situ. Pantau performa, dengarkan masukan pengguna, dan lakukan pembaruan jika diperlukan. Redesign yang baik bersifat adaptif terhadap data dan perubahan kebutuhan.
KPI yang Bisa Digunakan untuk Mengukur Keberhasilan Redesign
Supaya redesign tidak hanya tampak bagus di permukaan, Anda perlu mengukurnya dengan indikator yang jelas. Berikut beberapa KPI yang bisa dijadikan acuan:
- Bounce Rate. Apakah pengguna bertahan lebih lama di halaman baru dibanding sebelumnya.
- Session Duration. Waktu rata-rata pengguna di halaman bisa menunjukkan peningkatan engagement.
- Conversion Rate. Apakah redesign membantu meningkatkan interaksi yang diinginkan, seperti pendaftaran, pembelian, atau klik tombol CTA.
- Page Load Time. Kecepatan akses halaman setelah redesign, terutama untuk versi mobile.
- User Feedback. Evaluasi dari survei pengguna, komentar, atau hasil uji coba langsung.
- Return Visit Rate. Persentase pengguna yang kembali mengunjungi situs setelah redesign dijalankan.
Dengan memahami alur dan indikator keberhasilan ini, Anda dapat memastikan redesign yang dilakukan tidak sekadar mengubah tampilan, tetapi juga membawa hasil nyata bagi performa bisnis dan pengalaman pengguna.
FAQ Seputar Konten
- Seberapa rutin suatu website harus melakukan redesign?. Sebenarnya tidak ada aturan baku, tapi sebaiknya dilakukan setiap 2-3 tahun sekali. Walaupun identitas perusahaan tidak berubah, tapi faktor lain seperti tren desain, teknologi, dan perilaku konsumen selalu berubah seiring waktu.
- Apakah redesign secara penuh lebih baik dari pembaruan bertahap?. Jika web Anda sudah memiliki struktur SEO yang solid dengan branding yang kuat, maka akan lebih baik untuk melakukan pembaruan secara bertahap yang berbasis data. Namun jika desainnya memang sudah ketinggalan zaman, maka wajib melakukan redesign.
- Bagaimana redesign berpengaruh terhadap performa SEO?. Jika dilakukan dengan benar, redesign dapat mempersingkat loading, merapikan konten struktur, dan meningkatkan keterbacaan di versi mobile. Semua hal tersebut adalah indikator yang bagus untuk performa SEO.
- Apakah perlu melibatkan pengunjung dalam proses redesign?. Tentu saja, Anda bisa mengumpulkan feedback pengunjung lewat survei atau kotak saran untuk mengidentifikasi aspek mana saja yang mesti diperbaiki. Dengan begitu, semua hal yang didesain ulang bukanlah asumsi belaka, tapi benar-benar ekspektasi audiens.
- Apakah redesign harus dilakukan untuk versi desktop dan mobile?. Google sendiri mengutamakan indexing website pada versi mobile, sehingga proses redesign ini harus dilakukan untuk kedua sistem operasi tersebut.
Dapatkan Free Audit
Sebelum kita sampai kepada kesimpulan dari pembahasan “Redesign adalah” ini, MinTiv ingin menginfokan kepada Anda, bahwa Creativism sedang ada jasa Free Audit Website.
Bagaimana cara mendapatkannya?
Anda cukup klik tombol Free Audit, kemudian isi detail formulirnya. Hasil audit akan kami kirim via whatsapp/email.
Kesimpulan
Jadi, sudah jelas redesign adalah proses mengubah atau merombak ulang desain visual suatu web. Walaupun hanya tampilan visual, tapi ternyata hal tersebut sangat berpengaruh terhadap UX. Oleh karena itu, proses redesign ini harus dilakukan dengan perencanaan yang cermat.
Artikel ini, dikreasikan oleh Tim Agency SEO Creativism. Agency SEO yang siap berikan pelayanan SEO terbaik dan lengkap sesuai dengan kebutuhan website klien. Hubungi kami langsung melalui WhatsApp 6281 22222 7920, untuk dapat layanan Jasa SEO Website Terbaik, segera!.




Salam kenal ya kak.
Saya selalu tertarik baca postingan tentang seo, pbn, dll. Sayang saya gak berani ngutak ngatik blog, takut salah. Pernah sih belajar coding tapi udah banyak yg lupa. Saya udah isi free audit, moga diterima ya kak. Thank u.